SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BUMI
SUMATRA SELATAN
Sumatera selatan menurut beberapa pakar sejarawan banyak yang
berasumsikan bahwasanya terkenal dengan sebutan daerah yang letak Geografisnya
sangat Strategis Nusantara Bagian Sumatera Selatan atau palembang sudah sejak
abad kuno sudah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar diselat
malaka, baik yang hendak pergi ke cina maupun ke negara timur, maupun yang akan
melewati jalur barat ke india dan negara arab serta terus ke Eropa. Selain para
pedagang, para peziara pun banyak yang mengunakan jalur ini.
Menurut catatan sejarah cina yang ditulis oleh It’sing,
ketika ia berlayar ke india dan akan kembali ke cina ia tertahan di palembang.
Disana ia membuat catatan tentang kota dan penduduknya. Berdasarkan pendapat
Sayid Naguib Al-Atas, kedua tempat di tepi selat malaka pada permulaan abad
ke-7 H yang menjadi tempat persinggahan para musafir yang beragama islam dan
diterima baik oleh penguasa setempat yang belum beragama islam, adapun tempat
tersebut adalah palembang dan kedah. Realitasnya Kerajaan Sriwijaya dalam
catatan sejarah tidak dapat dinafikan dengan aspek perdagangan tingkat
internasional sebagaimana saya diskripsikan dalam pernyataan di atas. Pengaruh
hubungan dengan timur tengah tidak menutup masuknya islam ke wilayah Sriwijaya,
dan sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya nusantara atau Indonesia adalah
wilayah yang terbuka bagi seluruh ajaran agama bahkan Huston Smith dalam
bukunya Agama-Agama Manusia menyatakan bahwasanya Spirittualisasi agama Khon Hu
Chu ada di tengah belahan bumi Indonesia. Tentu penulis menarik kesimpulan
sementara, bahwasanya Nusantara/ Indonesia adalah wilayah yang Strategis untuk
mengembangkan ajaran agama. Maupun hubungan internasional .
Kita akan kembali, penulis akan menyajikan documenter terkait
dengan hadirnya agama islam di Sumatra-Selatan. Pada saat perkembangan Kerajaan
Sriwijaya, dibelahan timur tengah pun sedang berkembang ajaran islam. Dalam
persepsi Suryanegara beliua mencoba menulusuri angka kelahiran atau angka
eksistensi. Dengan kembali menenggok kepada catatan sejarawan, hasan Ibrahim
hasan, dalam bukunya sejarah kebudayaan.
Besarnya pengaruh kekuasaan politik islam di timur tengah
dapat kita bagi menjadi beberapa fase. Diantaranya, khulafaur Rasyidin (632-661)
Kholifah Bany Umayah (661-750), Kholifah Bany Abbasiyah (750-1268) dan Dinasti
Umayah yang ada di spanyol, (757-1492), kemudian dinasti Fatimiyah (919-1171)
Selanjutnya munculnya kekuasaan politik dari Turki. Bany Seljuk (1055-1290) dan
dan Turki Usmani (1290-1909). “Sengaja tidak dilanjutkan membicarakan
pergolakan negara-negara di timur tengah”: Arabia (7 Juni 1916), Iran (12
febuari 1921), Irak (23 Agustus 1921), Libanon ( 23 Mei 1926), dan Syi’ria (22
Mei 1930).
Yang menjadi perhatian, menurut Suryadinegara, bahwa kawasan
timur tengah adalah kawasan yang memegang memonopoli Aset Rempah-rempah adapun
kawasan tersebut adalah Indonesia. Selain itu pula hubungan Indonesia dengan
Negara-negara timur tengah telah terbangun sebelum Masehi. Dalam penjelasanya Arnold Abad Ke-2 SM.
Pelayaran bangsa arab telah sampai pada Srilangka. Tetapi, kalau kita peratikan
pula bahwa nama Indonesia belum kita kenal Seperti halnya sekarang, dengan
menyebut Srilangka dan India. Bahkan dalam Sastra Arab Klasik disebutkan pulau-pulau
cina, mengingat hubungan perdagangan melalui jalur darat antara Arabia dengan
Cina telah berlangsung sejak 500 SM. Maka nama Negara dan bangsa Cina le bih di
kenal oleh bangsa-bangsa timur tengah. Oleh karena itu Indonesia hanya sebagai
sumber komoditi rempah-rempah dikenal pula sebagai pulau-pulau Cina atau
Al-Hind [8]
Sumber perdagangan ini menyebutkan bahwa dalam perjalanya ke Negara-negara timur
jauh atau jepan dan cina serta korea, tidak terlepas pula mengadakan hubungan
dagang dengan Sriwijaya atau disebut dengan Zabaj. Dari Sriwijaya ini, mereka
memperoleh antara lain barang dagangan timah.
Kemudian penulis menghadirkan korelasi antara Sriwijaya dan
Dinasty Abbasiyah benarkah Antara Abbasiyah dan Sriwijaya sudah mempunyai
Korelasi? Coedes, menjelaskan bahwa kerajaan Sriwijaya berkaitan erat dengan
perkembangan islam ditimur tengah. Timbulnya Umayah dan Abbasiyah yang bergerak
dibidang perdagangan, telah mengidupkan jalan laut perdagangan yang melawati
selat Malaka. Dengan berkembangnya jalan laut perdagangan di Asia Tenggara
melalui Selat malaka ini, menganti jalan perdagangan di darat yang di rintis
sejak 500 SM. Antara Arabdan Cina. Kondisi terbukanya jalan laut inilah yang
mendorong Sriwijaya mengambil keuntungan dari kemajuan ini.
Seluruh kapal-kapal perdagangan yang melewati Selat malaka
singgah untuk mengambil air minum serta pembekalan lainnya. Oleh karena itu
Sriwijaya berusaha untuk memonopoli menguasai kedua daerah pesisir meliputi,
Jambi, Lampung, dan Semenanjung Malaka, tanah penting Kra. Bahkan, Srilangka
atau Ceylon pun dikuasai, pada Abad
ke-11. Sebelumnya pada tahun767 M. Sriwijaya menguasai pula daerah Tonkin.
Dari pendiskripsian di atas dimana kekuasaan Sriwijaya yang
melebar sampai pada Srilangka, tentu dapat di mengerti bahwa, perdagangan laut
yang melewatinya, baik dari cina ke timur atau sebaliknya, tentu perlu
persinggahan terlebih dahulu dan letak Geografis Sriwijayalah yang pas untuk
digunakanya. Dan persinggahan inilah juga yang memungkinkan akan lahirnya agma
islam di ala mu’awal.
Apabila menurut Coedes diatas telah ada hubunganya yang erat
antara perdagangan yang diselnggarakan oleh Ke-kholifahan Timur Tengah dengan
Sriwijaya, Jelaslah, bahwa, pada massa Khulafaur Rasyidin pun telah terjadi
Islamisasi tingkat Awal atau mulai masuk agama Islam. Dari massa Umar Bin
Khotob yang memiliki kekuasaan sampai Maroko hingga Persia . Besar kemunkinan
mereka melanjutkan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Indonesia sebagai produsen rempah-rempah.
Dengan munculnya kekuasaan Umayah 661-750 maka hubungan
dagang ini pun diteruskan dengan datangnya utusan dagang Raja Ta’che tersebut.
Pada massa Abbasiayah (750-1268), Novigasi islam ini mulai meluas atau
mengembangkan system perdagangannya melalui jalur laut yang sudah di rintis
hingga ke Cina atau Kanton sejak Abad Ke-4 M.
Sampai saat ini, penulis pun mengalami kearguan, kenapa harus
orang lain yang memuat sejarah lahirnya agama islam di sumatera-selatan? Kenapa
bukan orang-orang pribumi. Apakah di dalam penyebaran ini tidak ada causalitas.
Dan dari pihak dalam hanya bersifat pasif? Ketika kita menenggok ke belakang.
Bahwasaanya, kemampuan maritime bangsa Indonsia tercatat dalam sejarah, kiranya
tidak munkin islam masuk dengan satu jalur yakni jalur perdagangan. Kerajaan
sriwijaya memberikan sebuah pendiskripsian kepada kita semua, bahwa saat itu,
mereka mampu mengendalikan wilayah di seberang laut. Selain itu ramainya jalan
laut perdagangan yang melewati Selat Malaka, memunkinkan pula orang Indonesia
untuk ikut ke timur tengah atau mekkah sebagai pusat ajaran islam. Atau pusat
perdagangan dan peradaban di timur tengah, semisal: di Damaskus, Tunisia,
Bagdat, dan Al-Azar.
Dan kita juga telah mampu melihat Prestasi kemampuan
pelayaran atau Novigasi bangsa Indonesia yang Nampak pada abad ke-7 M. semata.
Jauh sebelumnya fakta sejarah menyatakan bangsa ini telah mampu berlayar
mengarumi samudara india atau samudra Persia. Seperti halnya yang disampaikan
oleh Gabriel Ferrand bahwa pada abad ke-2 M. danke-4 M. terjadi perpindahan
bangsa antara bangsa Indonesia dengan Madagaskar. [17] Peristiwa ini berulang kemali pada abad ke-10
M. terjadi pada massa islam telah memasuki kawasan tersebut. Kemampuan Novigasi
seperti tersebut oleh Van Leur dinyatakan sebagai suatu kenyataan yang sangat
menajubkan dari ketakutan laut bangsa Indonesia, ( a remarkable expreesion of Indonesia power overseas)
Apabila tulisan Suryadinegara adalah tulisan yang mendekati
keotentkian sebuah penelitian, itu artinya proses penyearan ajaran islam tidak
hanya berakar dari para pendatang atau para pedagang. Dapat disimpulkan bahwa
pelaku dan cara masuknya islam disumatra-selatan tidak ubahnya seperti terjadi
pada wilayah Indonesia lainnya, dilakukan oleh putra Indonesia dan tidak
berjalan pasif. Dengan pengertian bangsa Indonesia tidak menunggu kedatangan
bangsa Arab semata dengan upayanya mencari tambahan pengetahuan tentang agama
islam.
Khusus untuk Sumatra-selatan, masuknya agama islam selain
dilakukan oleh bangsa arab, pedagang utusan kholifah Umayah (661-750) dan kholifah
Abbasiyah (750-1268), juga perdagangan dari
Sriwijaya berlayar ketimur tengah. Hal yang demikian ini tidak
bertentangan, sekalipun Sriwijaya sebagai pusat pengembangan ajaran budha,
tetapi, karena watak Indonesia yang mempunyai kesanggupan yang tinggi dalam
menghormati perbedaan agama, maka, di wilayah kerajaan Sriwijaya di izinkan
masuknya agama islam melalui jalur perdagangan. Factor yang terakhir inilah
yang memungkinkan Sriwijaya menempuh Sistem pintu terbuka dalam menghadapi
kenyataan masuknya agama islam.
Disamping itu ada factor dunia perdagangan saat itu telah
beralih dari tangan Persia pra islam atau Roma ke tangan Islam, Sejak masa
pemerintahan Kholifah Umar bin Khotob (634-644), pintu-pintu perdagangan timur
tengah: Fustat di mesir. Kuffah dan Basro di babylonia, di kuasainya.
Pergantian kekuasaan politik yang terjadi di timur tengah, tidak merubah
hubungan dagang dengan Sriwijaya.
Seperti dikisahkan oleh penulis Arab, Ibn Rusta(900 M),
Sulaiman (850 M), dan di lanjutkan Abu Zaid (950 M), hubungan dagang antara
Abbasiyah dengan Sriwijaya tetap berlangsung. Kapal-kapal dagang islam tetap
mengunakan lalu lintas laut yang sama, singgah di srilangka, sebagai wilayah
Sriwijaya, lewat pula ke pantai india di saimur dekat Bombay. [19] Pelayaran ini
dilanjutkan ke cina dan jepang, dengan demikian ini, oleh Coedes dinyatakan
kejayaan Sriwijaya hubungan erat dengan perkembangan islam dalam periode ala
mu’awal [20]
kemampuan novigasi Sriwijaya dalam berita Arab, dikisahkan,
bahwa Sriwijaya juga mengadakan hubungan perdagangan melalui jalur laut hingga
ke pantau Afrika pada tahun 1154 M. hal ini tidaklah mengherankan, karena
perdagangan melalui jalur laut yang ditempu Sriwijaya dari Maluku saja
merupakan Seperdelapan Linkar Bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar