Kamis, 17 Desember 2015

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BUMI SUMATRA SELATAN SINGKAT

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BUMI SUMATRA SELATAN

Sumatera selatan menurut beberapa pakar sejarawan banyak yang berasumsikan bahwasanya terkenal dengan sebutan daerah yang letak Geografisnya sangat Strategis Nusantara Bagian Sumatera Selatan atau palembang sudah sejak abad kuno sudah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar diselat malaka, baik yang hendak pergi ke cina maupun ke negara timur, maupun yang akan melewati jalur barat ke india dan negara arab serta terus ke Eropa. Selain para pedagang, para peziara pun banyak yang mengunakan jalur ini.
Menurut catatan sejarah cina yang ditulis oleh It’sing, ketika ia berlayar ke india dan akan kembali ke cina ia tertahan di palembang. Disana ia membuat catatan tentang kota dan penduduknya. Berdasarkan pendapat Sayid Naguib Al-Atas, kedua tempat di tepi selat malaka pada permulaan abad ke-7 H yang menjadi tempat persinggahan para musafir yang beragama islam dan diterima baik oleh penguasa setempat yang belum beragama islam, adapun tempat tersebut adalah palembang dan kedah. Realitasnya Kerajaan Sriwijaya dalam catatan sejarah tidak dapat dinafikan dengan aspek perdagangan tingkat internasional sebagaimana saya diskripsikan dalam pernyataan di atas. Pengaruh hubungan dengan timur tengah tidak menutup masuknya islam ke wilayah Sriwijaya, dan sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya nusantara atau Indonesia adalah wilayah yang terbuka bagi seluruh ajaran agama bahkan Huston Smith dalam bukunya Agama-Agama Manusia menyatakan bahwasanya Spirittualisasi agama Khon Hu Chu ada di tengah belahan bumi Indonesia. Tentu penulis menarik kesimpulan sementara, bahwasanya Nusantara/ Indonesia adalah wilayah yang Strategis untuk mengembangkan ajaran agama. Maupun hubungan internasional .
Kita akan kembali, penulis akan menyajikan documenter terkait dengan hadirnya agama islam di Sumatra-Selatan. Pada saat perkembangan Kerajaan Sriwijaya, dibelahan timur tengah pun sedang berkembang ajaran islam. Dalam persepsi Suryanegara beliua mencoba menulusuri angka kelahiran atau angka eksistensi. Dengan kembali menenggok kepada catatan sejarawan, hasan Ibrahim hasan, dalam bukunya sejarah kebudayaan.
Besarnya pengaruh kekuasaan politik islam di timur tengah dapat kita bagi menjadi beberapa fase. Diantaranya, khulafaur Rasyidin (632-661) Kholifah Bany Umayah (661-750), Kholifah Bany Abbasiyah (750-1268) dan Dinasti Umayah yang ada di spanyol, (757-1492), kemudian dinasti Fatimiyah (919-1171) Selanjutnya munculnya kekuasaan politik dari Turki. Bany Seljuk (1055-1290) dan dan Turki Usmani (1290-1909). “Sengaja tidak dilanjutkan membicarakan pergolakan negara-negara di timur tengah”: Arabia (7 Juni 1916), Iran (12 febuari 1921), Irak (23 Agustus 1921), Libanon ( 23 Mei 1926), dan Syi’ria (22 Mei 1930).
Yang menjadi perhatian, menurut Suryadinegara, bahwa kawasan timur tengah adalah kawasan yang memegang memonopoli Aset Rempah-rempah adapun kawasan tersebut adalah Indonesia. Selain itu pula hubungan Indonesia dengan Negara-negara timur tengah telah terbangun sebelum Masehi.  Dalam penjelasanya Arnold Abad Ke-2 SM. Pelayaran bangsa arab telah sampai pada Srilangka. Tetapi, kalau kita peratikan pula bahwa nama Indonesia belum kita kenal Seperti halnya sekarang, dengan menyebut Srilangka dan India. Bahkan dalam Sastra Arab Klasik disebutkan pulau-pulau cina, mengingat hubungan perdagangan melalui jalur darat antara Arabia dengan Cina telah berlangsung sejak 500 SM.  Maka nama Negara dan bangsa Cina le bih di kenal oleh bangsa-bangsa timur tengah. Oleh karena itu Indonesia hanya sebagai sumber komoditi rempah-rempah dikenal pula sebagai pulau-pulau Cina atau Al-Hind [8]
Sumber perdagangan ini menyebutkan  bahwa dalam perjalanya ke Negara-negara timur jauh atau jepan dan cina serta korea, tidak terlepas pula mengadakan hubungan dagang dengan Sriwijaya atau disebut dengan Zabaj. Dari Sriwijaya ini, mereka memperoleh antara lain barang dagangan timah.
Kemudian penulis menghadirkan korelasi antara Sriwijaya dan Dinasty Abbasiyah benarkah Antara Abbasiyah dan Sriwijaya sudah mempunyai Korelasi? Coedes, menjelaskan bahwa kerajaan Sriwijaya berkaitan erat dengan perkembangan islam ditimur tengah. Timbulnya Umayah dan Abbasiyah yang bergerak dibidang perdagangan, telah mengidupkan jalan laut perdagangan yang melawati selat Malaka. Dengan berkembangnya jalan laut perdagangan di Asia Tenggara melalui Selat malaka ini, menganti jalan perdagangan di darat yang di rintis sejak 500 SM. Antara Arabdan Cina. Kondisi terbukanya jalan laut inilah yang mendorong Sriwijaya mengambil keuntungan dari kemajuan ini.
Seluruh kapal-kapal perdagangan yang melewati Selat malaka singgah untuk mengambil air minum serta pembekalan lainnya. Oleh karena itu Sriwijaya berusaha untuk memonopoli menguasai kedua daerah pesisir meliputi, Jambi, Lampung, dan Semenanjung Malaka, tanah penting Kra. Bahkan, Srilangka atau Ceylon pun dikuasai,  pada Abad ke-11. Sebelumnya pada tahun767 M. Sriwijaya menguasai pula daerah Tonkin.
Dari pendiskripsian di atas dimana kekuasaan Sriwijaya yang melebar sampai pada Srilangka, tentu dapat di mengerti bahwa, perdagangan laut yang melewatinya, baik dari cina ke timur atau sebaliknya, tentu perlu persinggahan terlebih dahulu dan letak Geografis Sriwijayalah yang pas untuk digunakanya. Dan persinggahan inilah juga yang memungkinkan akan lahirnya agma islam di ala mu’awal.
Apabila menurut Coedes diatas telah ada hubunganya yang erat antara perdagangan yang diselnggarakan oleh Ke-kholifahan Timur Tengah dengan Sriwijaya, Jelaslah, bahwa, pada massa Khulafaur Rasyidin pun telah terjadi Islamisasi tingkat Awal atau mulai masuk agama Islam. Dari massa Umar Bin Khotob yang memiliki kekuasaan sampai Maroko hingga Persia . Besar kemunkinan mereka melanjutkan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Indonesia  sebagai produsen rempah-rempah.
Dengan munculnya kekuasaan Umayah 661-750 maka hubungan dagang ini pun diteruskan dengan datangnya utusan dagang Raja Ta’che tersebut. Pada massa Abbasiayah (750-1268), Novigasi islam ini mulai meluas atau mengembangkan system perdagangannya melalui jalur laut yang sudah di rintis hingga ke Cina atau Kanton sejak Abad Ke-4 M.
Sampai saat ini, penulis pun mengalami kearguan, kenapa harus orang lain yang memuat sejarah lahirnya agama islam di sumatera-selatan? Kenapa bukan orang-orang pribumi. Apakah di dalam penyebaran ini tidak ada causalitas. Dan dari pihak dalam hanya bersifat pasif? Ketika kita menenggok ke belakang. Bahwasaanya, kemampuan maritime bangsa Indonsia tercatat dalam sejarah, kiranya tidak munkin islam masuk dengan satu jalur yakni jalur perdagangan. Kerajaan sriwijaya memberikan sebuah pendiskripsian kepada kita semua, bahwa saat itu, mereka mampu mengendalikan wilayah di seberang laut. Selain itu ramainya jalan laut perdagangan yang melewati Selat Malaka, memunkinkan pula orang Indonesia untuk ikut ke timur tengah atau mekkah sebagai pusat ajaran islam. Atau pusat perdagangan dan peradaban di timur tengah, semisal: di Damaskus, Tunisia, Bagdat, dan Al-Azar.
Dan kita juga telah mampu melihat Prestasi kemampuan pelayaran atau Novigasi bangsa Indonesia yang Nampak pada abad ke-7 M. semata. Jauh sebelumnya fakta sejarah menyatakan bangsa ini telah mampu berlayar mengarumi samudara india atau samudra Persia. Seperti halnya yang disampaikan oleh Gabriel Ferrand bahwa pada abad ke-2 M. danke-4 M. terjadi perpindahan bangsa antara bangsa Indonesia dengan Madagaskar. [17]  Peristiwa ini berulang kemali pada abad ke-10 M. terjadi pada massa islam telah memasuki kawasan tersebut. Kemampuan Novigasi seperti tersebut oleh Van Leur dinyatakan sebagai suatu kenyataan yang sangat menajubkan dari ketakutan laut bangsa Indonesia, ( a remarkable expreesion of  Indonesia power overseas)
Apabila tulisan Suryadinegara adalah tulisan yang mendekati keotentkian sebuah penelitian, itu artinya proses penyearan ajaran islam tidak hanya berakar dari para pendatang atau para pedagang. Dapat disimpulkan bahwa pelaku dan cara masuknya islam disumatra-selatan tidak ubahnya seperti terjadi pada wilayah Indonesia lainnya, dilakukan oleh putra Indonesia dan tidak berjalan pasif. Dengan pengertian bangsa Indonesia tidak menunggu kedatangan bangsa Arab semata dengan upayanya mencari tambahan pengetahuan tentang agama islam.
Khusus untuk Sumatra-selatan, masuknya agama islam selain dilakukan oleh bangsa arab, pedagang utusan kholifah Umayah (661-750) dan kholifah Abbasiyah (750-1268), juga perdagangan dari  Sriwijaya berlayar ketimur tengah. Hal yang demikian ini tidak bertentangan, sekalipun Sriwijaya sebagai pusat pengembangan ajaran budha, tetapi, karena watak Indonesia yang mempunyai kesanggupan yang tinggi dalam menghormati perbedaan agama, maka, di wilayah kerajaan Sriwijaya di izinkan masuknya agama islam melalui jalur perdagangan. Factor yang terakhir inilah yang memungkinkan Sriwijaya menempuh Sistem pintu terbuka dalam menghadapi kenyataan masuknya agama islam.
Disamping itu ada factor dunia perdagangan saat itu telah beralih dari tangan Persia pra islam atau Roma ke tangan Islam, Sejak masa pemerintahan Kholifah Umar bin Khotob (634-644), pintu-pintu perdagangan timur tengah: Fustat di mesir. Kuffah dan Basro di babylonia, di kuasainya. Pergantian kekuasaan politik yang terjadi di timur tengah, tidak merubah hubungan dagang dengan Sriwijaya.
Seperti dikisahkan oleh penulis Arab, Ibn Rusta(900 M), Sulaiman (850 M), dan di lanjutkan Abu Zaid (950 M), hubungan dagang antara Abbasiyah dengan Sriwijaya tetap berlangsung. Kapal-kapal dagang islam tetap mengunakan lalu lintas laut yang sama, singgah di srilangka, sebagai wilayah Sriwijaya, lewat pula ke pantai india di saimur dekat Bombay. [19] Pelayaran ini dilanjutkan ke cina dan jepang, dengan demikian ini, oleh Coedes dinyatakan kejayaan Sriwijaya hubungan erat dengan perkembangan islam dalam periode ala mu’awal [20]
kemampuan novigasi Sriwijaya dalam berita Arab, dikisahkan, bahwa Sriwijaya juga mengadakan hubungan perdagangan melalui jalur laut hingga ke pantau Afrika pada tahun 1154 M. hal ini tidaklah mengherankan, karena perdagangan melalui jalur laut yang ditempu Sriwijaya dari Maluku saja merupakan Seperdelapan Linkar Bumi.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar